Laman

Selasa, 28 Februari 2017

Tiada Kehidupan Tanpa Perubahan



Letak yang jauh dari perkotaan tidak membuat sekolah ini tersingkirkan dari niat dan minat siswa untuk masuk kesekolah tersebut, hal ini yang saya lihat sekilas pada saat pertama saya berkunjung ke Sekolah Menengah Akhir Kembang Tanjung, namun tujuan saya bukan untuk melihat jumlah kuantitas siswa di sekolah ini melainkan kualitas sumber ilmu pendidikan atau biasa di sebut PERPUSTAKAAN SEKOLAH inilah tujuan pokok saya yang jauh di kawasan sigli.
Pada saat kunjungan di perpustakaan sekolah, saya melihat Keadaan Perpustakaan antar sekolah menengah atas yang sudah saya kunjungi tidak ada perbedaan yang  jauh bahkan persis sama kalaupun ada, yang membedakan Cuma ruangan saja.
Keadaan inilah yang membuat jiwa kenyamanan ini, ingin saya tinggalkan rasa santai atau rasa nyaman tersebut  maka saya mengambil tanggung jawab dengan membentuk Komunitas Pustakawan Kreatif Pidie (KPK)Pidie, dengan tujuan awal yaitu memudahkan setiap pengguna perpustakaan mendapatkan bahan informasi dengan cepat dan tepat.
Setelah terbentuk sebuah wadah tersebut  Atau tepatnya pada tanggal 22-10-2015. Mulai saat itu  maka saya ingin bertekad dalam diri saya pribadi untuk  berbuat  sekecil mungkin demi sebuah perubahan, dari sinilah perjuangan saya dimulai ya namanya awal membangun tanpa adanya bantuan saya ingin mandiri maka saya mulai mendatangi setiap sekolah dengan menawarkan program automasi perpustakaan dan berharap mereka pihak terkait di sekolah mau mengeluarkan uang 500ribu untuk instal dan memahami kegunaannya.
Berbagai macam kendala maupun hal-hal hambatan yang saya terima, saya yakin kita menawarkan sesuatu kepada seseorang lebih sulit dari pada mereka menanyakan sesuatu kepada kita inilah berkaitan faktor kebutuhan. Saya tetap menawarkan ke setiap sma yang letaknya di seputaran kawasan kota sigli sambil berharap mereka mau bekerja sama membangun perpustakaan di sekolah mereka masing-masing. Setelah bertamu kehampir beberapa SMA di kawasan Kota sigli tanpa ada hasil  yang memuaskan, maka saya memberanikan diri meluaskan jaringan atau jangkauan di luar kawasan kota sigli karena saya yakin setiap kerja keras pasti akan membuahkan hasil kebahagian dan setiap perjuangan pasti akan datang keberhasilan.
Hingga akhirnya setelah beberapa jumlah sekolah yang saya datangi tak membuahkan hasil disinilah SMA beserta pihak sekolah bersedia memberikan 500Ribu demi menciptakan awal perubahan dalam mengelola sumber informasi. Saya atas nama Muhammad Yushar,s.ip selaku Penggagas KPK pidie mengucapkan terima kasih telah menjadi mitra dalam menuju awal mula pengelolaan perpustakaan yang sistematis. Tidak hanya ucapan terima kasih kami juga memberikan penghargaan sebagai perpustakaan sekolah pertama yang menjalin kerja sama Dan akhirnya setelah saya tidak tahu lagi berapa sudah sekolah yang saya datangi



: Visi dan Misi Perpustakaan ::


Perpustakaan Universitas Tarumanagara mengemban tugas utama menunjang pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di Universitas Tarumanagara (Pendidikan dan pengajaran,Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat).

Dalam melaksanakan tugas utamanya,Perpustakaan perlu menyelaraskan dengan Visi dan Misi Universitas Tarumanagara. Seperti telah dirumuskan,Visi Universitas Tarumanagara adalah “Menjadi universitas yang diakui keunggulannya di dalam negeri dan diperhitungkan di kancah regional”.

Sedangkan Misinya ada empat hal,yakni: Pertama,melaksanakan pendidikan untuk menghasilkan lulusan yang berbudi luhur. Kedua,melaksanakan pembelajaran untuk menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan,teknologi dan seni. Ketiga,melaksanakan pelatihan untuk menghasilkan lulusan yang terampil. Keempat adalah mengusahakan temuan dan rekacipta di bidang ilmu pengetahuan,teknologi dan seni melalui penelitian dan perancangan.

Berkaitan dengan tugas dan tanggungjawab tersebut maka Perpustakaan Universitas Tarumanagara memilih motto ‘Pro Excelentia Academia’.

Makna motto tersebut berarti ‘mendukung terwujudnya keunggulan kampus’ atau ‘demi keunggulan kampus’.

Ide dan semangat yang terkandung di dalam motto tersebut selaras dengan Visi dan Misi Universitas Tarumanagara. Harapannya,agar Perpustakaan mampu berperan aktifemberikan kontribusi optimal untuk mewujudkan Visi dan Misi dimaksud.

Seiring dengan meningkatnnya kebutuhan informasi ilmiah serta pesatnya perkembangan Ipteks,maka Perpustakaan terus berupaya mengembangkan diri dan berusaha untuk meningkatkan mutu layanannya. Berkaitan dengan upaya tersebut, Perpustakaan telah mendapatkan dukungan penuh dari Pusat Komputer (Puskom) Universitas Tarumanagara.

Puskom telah berhasil menciptakan dan mengembangkan sendiri program aplikasi Sistem Informasi Perpustakaan Universitas Tarumanagara (SIP Untar). Pengembangan program terus dilakukan. Tanggal 9 September 2004 patut dicatat sebagai langkah awal Perpustakaan ‘on line’. Meskipun relative masih terbatas menyajikan data catalog, Perpustakaan mulai tanggal tersebut telah dapat diakses melalui web site Universitas Tarumanagara (www.tarumanagara.ac.id.).

Sesuai dengan motto ‘Pro Excelentia Academia’ Perpustakaan Universitas Tarumanagara akan terus mengembangkan diri agar mampu berperan optimal sebagai mediator dan sumber informasi Ipteks yang semakin lengkap dan mutakhir, sebagai ‘pusat belajar’ maupun sebagai ‘agen perubahan’ demi kemajuan Kampus Universitas Tarumanagara serta memberikan andil rangka membangun bangsa dan negara Indonesia yang lebih maju,adil dan sejahtera


Hingga saat ini masalah pendidikan masih menjadi perhatian khusus oleh pemerintah. Pasalnya Indeks Pembangunan Pendidikan Untuk Semua atau education for all (EFA) di Indonesia menurun tiap tahunnya. Tahun 2011 Indonesia berada diperingkat 69 dari 127 negara dan merosot dibandingkan tahun 2010 yang berada pada posisi 65. Indeks yang dikeluarkan pada tahun 2011 oleh UNESCO ini lebih rendah dibandingkan Brunei Darussalam (34), serta terpaut empat peringkat dari Malaysia (65).

Salah satu penyebab rendahnya indeks pembangunan pendidikan di Indonesia adalah tingginya jumlah anak putus sekolah. Sedikitnya setengah juta anak usia sekolah dasar (SD) dan 200 ribu anak usia sekolah menengah pertama (SMP) tidak dapat melanjutkan pendidikan. Data pendidikan tahun 2010 juga menyebutkan 1,3 juta anak usia 7-15 tahun terancam putus sekolah. Bahkan laporan Departeman Pendidikan dan Kebudayaan menunjukan bahwa setiap menit ada empat anak yang putus sekolah.

Menurut Staf Ahli Kemendikbud Prof. Dr. Kacung Marijan, Indonesia mengalami masalah pendidikan yang komplek. Selain angka putus sekolah, pendidikan di Indonesia juga menghadapi berbagai masalah lain, mulai dari buruknya infrastruktur hingga kurangnya mutu guru. Masalah utama pendidikan di Indonesia adalah kualitas guru yang masih rendah, kualitas kurikulum yang belum standar, dan kualitas infrastruktur yang belum memadai.
Dalam dunia pendidikan guru menduduki posisi tertinggi dalam hal penyampaian informasi dan pengembangan karakter mengingat guru melakukan interaksi langsung dengan peserta didik dalam pembelajaran di ruang kelas. Disinilah kualitas pendidikan terbentuk dimana kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru ditentukan oleh kualitas guru yang bersangkutan.
   Secara umum, kualitas guru dan kompetensi guru di Indonesia masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Dari sisi kualifikasi pendidikan, hingga saat ini dari 2,92 juta guru baru sekitar 51% yang berpendidikan S-1 atau lebih sedangkan sisanya belum berpendidikan S-1. Begitu juga dari persyaratan sertifikasi, hanya 2,06 juta guru atau sekitar 70,5% guru yang memenuhi syarat sertifikasi sedangkan 861.670 guru lainnya belum memenuhi syarat sertifikasi.

Dari segi penyebarannya, distribusi guru tidak merata. Kekurangan guru untuk sekolah di perkotaan, desa, dan daerah terpencil masing-masing adalah 21%, 37%, dan 66%. Sedangkan secara keseluruhan Indonesia kekurangan guru sebanyak 34%, sementara di banyak daerah terjadi kelebihan guru. Belum lagi pada tahun 2010-2015 ada sekitar 300.000 guru di semua jenjang pendidikan yang akan pensiun sehingga harus segera dicari pengganti untuk menjamin kelancaran proses belajar.
Kurikulum pendidikan di Indonesia juga menjadi masalah yang harus diperbaiki. Pasalnya kurikulum di Indonesia hampir setiap tahun mengalami perombakan dan belum adanya standar kurikulum yang digunakan. Tahun 2013 yang akan datang, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan akan melakukan perubahan kurikulum pendidikan nasional untuk menyeimbangkan aspek akademik dan karakter. Kurikulum pendidikan nasional yang baru akan selesai digodok pada Februari 2013 itu rencananya segera diterapkan setelah melewati uji publik beberapa bulan sebelumnya.
 Dulu waktu masih jaman menimba ilmu di Madrasah Ibtidaiyah (MI)—setingkat SD—saya ingat sistem pendidikan Indonesia masih menggunakan catur wulan. Dimana dalam setiap tahun ajaran itu dibagi menjadi 3 sesi, catur wulan pertama, kedua, dan ketiga.
Di setiap akhir catur wulan tersebut diadakan evaluasi berupa ujian catur wulan yang nilai hasil evaluasi tersebut diakumulasikan hingga catur wulan yang terakhir, catur wulan ketiga. Di sesi paling akhir ini tentunya menjadi penentu kelulusan seorang siswa selama setahun belajar di kelas. Tentunya seorang guru di sini harus mampu melihat sejauh mana perkembangan belajar siswa-siswanya guna menentukan keputusan akhir yang diwujudkan dalam bentuk nilai di dalam rapor. Sistem pendidikan semacam ini adalah kurikulum 1994.
Model kurikulum ini orientasinya adalah bahwa pembelajaran terletak pada Pengalaman Belajar. Artinya bahwa dalam proses pembelajaran diharapkan siswa merasakannya sebagai sebuah pengalaman, yang membuatnya selalu mengingat pelajaran tersebut.
Pendekatan pembelajaran dalam pelaksanaan KBM diharapkan guru menerapkan prinsip belajar aktif. Yaitu pembelajaran yang melibatkan siswa secara fisik, mental (pemikiran dan perasaan), dan sosial.
Kurikulum di atas merupakan kurikulum ketiga setelah kurikulum 1976 dan 1984 yang secara resmi ditetapkan oleh pemerintah lewat UU No.4 Tahun 1950 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah. Juga UU No.12 Tahun 1954 tentang Pernyataan Berlakunya UU No.4 Tahun 1950 dari Republik Indonesia Dahulu tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah untuk Seluruh Indonesia. Lalu, UU No.22 Tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi, UU No.14 PRPS Tahun 1965 tentang Majelis Pendidikan Nasional dan UU No.19 PNPS Tahun 1965 tentang Pokok-Pokok Sistem Pendidikan Nasional Pancasila.
Seiring berjalannya waktu dan jaman yang semakin berkembang, sistem pendidikan pun disesuaikan dengan kondisi yang ada. Berbagai macam perubahan kurikulum yang dilakukan harapannya adalah untuk menunjang kemajuan pendidikan di Tanah Air.
Hingga kemudian dilakukan penghapusan sistem catur wulan dan diganti sistem semester (per 6 bulan) dengan kurikulum yang berbasis kompetensi yang mulai diterapkan pada tahun 2004 atau yang kita kenal dengan sebutan kurikulum 2004 (KBK).
Pada kurikulum 2004 ini dalam hal pembelajaran, diarahkan untuk mendorong individu belajar sepanjang hayat dan mewujudkan masyarakat belajar.
Kegiatan belajar mengajar, dilandasi oleh prinsip:
1. berpusat pada peserta didik; 2. mengembangkan kreativitas peserta didik; 3. menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang; 4. mengembangkan beragam kemampuan yang bermuatan nilai; 5. menyediakan pengalaman belajar yang beragam dan; 6. belajar melalui berbuat. Kurikulum 2004 ini berjalan selama kurun waktu dua tahun. Jika mengikuti perkembangan pendidikan di Indonesia sebenarnya KBK ini baru merupakan draft yang belum ditandatangani oleh menteri.
Tentunya akan muncul pertanyaan, kenapa baru draft kok sudah dilaksanakan? Bukankah nantinya akan membuat sebuah kebingungan baru ketika sistem yang belum sepenuhnya siap akan tetapi sudah dijalankan? Semua berpulang pada keinginan pemerintah menjawab tantangan revolusi pendidikan yang terjadi, memasuki orde reformasi.
Dan pada kenyataannya di lapangan, sebenarnya kurikulum KBK merupakan uji coba sebuah kurikulum untuk mendapatkan sebuah format kurikulum yang dirasa cocok. setelah sebelumnya diujicobakan kurikulum ini di beberapa sekolah yang ditunjuk.
Setelah 2 tahun kurikulum ini dijalankan kemudian muncul format baru sistem pendidikan di Indonesia yakni kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Makna dari kurikulum ini sendiri adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan (sekolah).
Di KTSP ini komponennya terdiri atas:
1. visi, misi, dan tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan; 2. struktur dan muatan KTSP; 3. kalender pendidikan; 4. silabus, dan; 5. RPP. Pada KTSP, visi dan misi sudah ada dan dimiliki oleh setiap satuan pendidikan. Sedang tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Pengembangan kurikulum ini didasarkan pada PP No.19 Tahun 2005 tentang SNP (Standar Nasional Pendidikan) pasal 17, yang menyebutkan bahwa: 1) kurikulum tingkat satuan pendidikan dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat, dan karakteristik peserta didik, 2) sekolah dan komite sekolah/madrasah mengembangkan kurikulum satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan serta berpedoman pada panduan yg disusun oleh BSNP. Dari berbagai macam kurikulum yang telah coba diterapkan di Indonesia ini tentunya bisa kita rasakan sendiri apakah sudah menemui titik klimaks solusi pendidikan di Indonesia atau belum? Bagaimanapun juga perubahan sistem pendidikan yang terjadi harapannya adalah agar masyarakat Indonesia mampu menyesuaikan diri dengan kondisi jaman.
Kemudian muncul “pameo” di masyarakat, “ganti menteri, ganti kurikulum”. Masyarakat pun tentunya sudah tidak kaget lagi dengan berbagai macam aturan baru yang diterapkan oleh pemerintah tersebut. Akan tetapi baik secara langsung ataupun tidak langsung efek yang muncul dari gonta-gantinya sistem ini jelas sangat terasa di masyarakat. Bisa dibilang ketika setiap tahun sekarang  ini siswa harus membeli buku materi baru karena referensi yang sebelumnya sudah tidak terpakai lagi. Berbagai fasilitas penunjangnya pun juga harus disiapkan oleh orang tua didik ketika sistem baru dilahirkan. Secara finansial jelas sangat berdampak.
Kemudian di akhir tahun 2012 kemarin muncul wacana bahwa pada tahun 2013 akan diujicobakan kembali kurikulum baru, yakni kurikulum 2013 yang meskipun belum pasti namun sudah membuatgegermasyarakat.
Ketika muncul pemberitaan bahwa di kurikulum yang rencananya akan diujicobakan pada tahun ajaran 2013/2014 ini mata pelajaran Bahasa Daerah akan dihapuskan. Isu ini jelas membuat para guru, calon guru, dan masyarakat resah ketika kita tahu bahwa sekarang ini anak-anak sudah kurang—bahkan banyak yang sudah tidak—mengenal lagi bahasa daerahnya masing-masing. Misalnya saja di Jawa Tengah dan Jogjakarta ketika anak-anak berbicara dengan teman sebayanya, gurunya, dan orang tuanya mereka sudah tidak menggunakan bahasa Jawa lagi—apalagi bahasaKrama—tetapi menggunakan bahasa Indonesia yang dirasa lebih mudah. Hal ini jelas akan membuat moral bangsa menjadi semakin mungalami kemunduran ketika sudah tidak dikenal lagi kearifan lokal dan keragaman bahasa Nusantara dan unggah-ungguh basa (sopan santun berbahasa) pun tentunya semakin menghilang.
Kekhawatiran masyarakat ini kemudian mendapat tanggapan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, M. Nuh yang dalam statementnya menyebutkan bahwa Bahasa Daerah tidak dihilangkan akan tetapi diintegrasikan dengan beberapa mata pelajaran lain yang juga baru akan dimunculkan yakni mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya dalam satu mata pelajaran “Muatan Lokal (Mulok).”
Porsi mata pelajaran Muatan Lokal ini adalah 4 jam tiap minggunya. Akan tetapi meskipun porsinya ditambah tentunya muncul juga kekhawatiran ketika Seni Budaya dan Prakarya yang lebih mempunyai nilai ekonomis akan membuat Bahasa Daerah semakin tersisihkan perannya dalam pendidikan di Indonesia.
Bagaimanapun juga jika ingin mengarahkan pendidikan berkarakter dirasa sangat penting untuk tetap mengadakan mata pelajaran Bahasa Daerah secara khusus karena ini salah satu yang utama setelah Pendidikan Agama untuk mendukung pendidikan berkarakter tersebut. Bukankah dengan Pendidikan Agama dan Bahasa Daerah tersebut kita diajarkan bertutur kata dan bertingkah laku secara sopan dan santun? Tentunya ini perlu dikaji lebih mendalam lagi dan harus disesuaikan dengan lokalitas yang ada di masing-masing daerah di seantero Nusantara.
Tulisan ini saya buat setelah Jumat malam (28/12) mendiskusikan tentang sistem pendidikan di Indonesia bersama sahabat Dalhar, Farid, dan Zaenul di sekretariat PMII Komisariat Kentingan.


Mengingat sering adanya perubahan kurikulum pendidikan akan membuat proses belajar mengajar terganggu. Karena fokus pembelajaran yang dilakukan oleh guru akan berganti mengikuti adanya kurikulum yang baru. Terlebih jika inti kurikulum yang digunakan berbeda dengan kurikulum lama sehingga mengakibatkan penyesuaian proses pembelajaran yang cukup lama.
Dari dulu hingga sekarang masalah infrastruktur pendidikan masih menjadi hantu bagi pendidikan di Indonesia. Hal ini dikarenakan masih banyaknya sekolah-sekolah yang belum menerima bantuan untuk perbaikan sedangkan proses perbaikan dan pembangunan sekolah yang rusak atau tidak layak dilakukan secara sporadis sehingga tidak kunjung selesai.

Berdasarkan data Kemendiknas, secara nasional saat ini Indonesia memiliki 899.016 ruang kelas SD namun sebanyak 293.098 (32,6%) dalam kondisi rusak. Sementara pada tingkat SMP, saat ini Indonesia memiliki 298.268 ruang kelas namun ruang kelas dalam kondisi rusak mencapai 125.320 (42%). Bila dilihat dari daerahnya, kelas rusak terbanyak di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebanyak 7.652, disusul Sulawesi Tengah 1.186, Lampung 911, Jawa Barat 23.415, Sulawesi Tenggara 2.776, Banten 4.696, Sulawesi Selatan 3.819, Papua Barat 576, Jawa Tengah 22.062, Jawa Timur 17.972, dan Sulawesi Barat 898.

Melihat begitu banyaknya masalah pendidikan di Indonesia maka dibutuhkan solusi tepat untuk mengatasinya. Solusi yang dapat membatu pemerintah untuk meringankan beban pendidikan di Indonesia.
Dalam meningkatkan mutu pendidikan, lembaga tersebut melakukan pendampingan kepada guru-guru di Indonesia dan pemberian apresiasi lebih kepada guru-guru kreatif. Pendampingan dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan profesionalitas, kreatifitas, dan kompetensi guru dengan model pendampingan berupa seminar, lokakarya, konsultasi, pelatihan dan praktek. Pendampingan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan yang didukung oleh pemerintah dan pihak terkait.

Lembaga tersebut juga memediasi masyarakat, pendidik, dan pihak terkait lainnya untuk menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah dalam memperbaiki kurikulum pendidikan. Diharapkan dengan adanya lembaga ini, ide-ide kreatif untuk memperbaiki kurikulum pendidikan dapat tertampung dan pemerintah dapat mempertimbangkan ide masyarakat untuk kebijakan yang dibuat.

Dalam meningkatkan kemampuan kepemimpinan guru, kepala sekolah, dan pengelola sekolah, lembaga tersebut melakukan pendampingan guna mewujutkan manajemen sekolah yang baik. Proses yang dilakukan berupa konsultasi, lokakarya, dan pelatihan ditunjukan kepada guru, staf dan pimpinan sekolah. Pihak manajemen sekolah diharapkan mampu membawa sekolah yang dipimpinnya untuk berkembang dan meraih prestasi yang diharapkan.

Lembaga perantara tersebut juga berperan membantu manajemen sekolah untuk mengembangkan kerjasama dengan instansi-instansi terkait guna memperoleh dana pengembangan infrastruktur sekolah.Tidak hanya itu, lembaga tersebut juga dapat menggalang dana dari sponsor untuk perbaikan bangunan sekolah yang hampir rusak di wilayah terpencil.

Dukungan masyarakan, lembaga sosial, dan lembaga pers memiliki fungsi dalam meningkatkan pemahaman pentingnya pendidikan melalui penyebaran informasi. Oleh karena itu, lembaga tersebut mempunyai tugas untuk meningkatkan dukungan tersebut dengan cara bekerja sama dengan pihak masyarakat, lembaga sosial, dan pers. Dengan demikian informasi seputar perbaikan mutu pendidikan di Indonesia dapat tersalurkan dengan mudah.

Untuk membatu mengatasi masalah pendidikan dibutuhkan adanya lembaga yang membantu pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan, menjaring kerjasama untuk memperoleh dana pendidikan, dan menggalang dukungan untuk pendidikan yang lebih baik. Lembaga perantara tersebut bekerjasama dengan pemerintah, pihak swasta, dan kelompok masyarakat untuk bersama-sama memberbaiki kualitas pendidikan di Indonesia mengingat tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersam

Pada beberapa perguruan tinggi diluar negeri mereka memperkerjalakan dosen untuk mengajar di universitas mereka dari berbagai negara, sementara itu di perguruan tinggi kita cenderung mengangkat dosen dari lulusannya sendiri, sesuatu yang sangat di hindatri pada negara AS
Hanya pulau kecil Singapura yang dapat menjadi milik Inggris, dengan menggunakan cara kolonial yang telah terkenal dengan memainkan putra-putra mahkota yang kecewa. Semuanya gagal. Hanya Singapura yang berhasil dan cukuplah ini.
Dia William H.M. Read Menurut dia, di Malaka kesultanan-kesultanan banyak yang mudah diambil, asal saja Inggris mau berbuat.
Masyarakat aceh pada umumnya masih berada dalam proses transisi dari budaya lisan menuju budaya tulisan. Kebiasaan membaca dan menulis masih belumberkembang dengan sepenuhnya pada kalangan masyarakat. Kecendrungan mendapatkan informasi melalui percakapan (dengan lisan) tampaknya masih lebih kuat daripada melalui bacaan (dengan tulisan). Kecendrungan ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa minat baca dan kebiasaan membaca di kalangan siswa dan mahasiswa relatif masih lemah dan kenyataan lainya anjuran yang sering terdengar dari pihak pemerintah dan berbagai kalangan pemimpin masyarakat untuk meningkatkan minat baca dan kebiasaan membaca adalah bukti kecendrungan tersebut.
Pengertian pendidikan...............
Belajar di sekolah merupakan suatu proses. Berarti,ada tatahp-tahapnya dan tahap pertama harus dijalani sebelum kita ke tahap kedua, sedang semua tahap saling mempengaruhi satu sama lain dan seolah-olah hadir terus dalam hasil akhir. belajar mengenai mata pelajaran dalam kurikulum dapat dilihat  sebagai suatu proses tersendiri. Proses tersebut seperti dimulai dengan hari pertama belajar sampai diakhiri dengan hari ujian akhir semester. Disini juga semua tahap saling mempengaruhi
Jangan seperti zaman dulu Dalam menghadapi negara-negara kolonial para sultan dan saingan mereka mengikuti taktik yang sama seperti nenek moyang mereka - dan dengan akibat-akibat bencana yang sama menimpa mereka. Mereka berusaha mengadu Inggris dengan Belanda agar saling memerangi, dan kalau mungkin beberapa negara lain lagi di Asia yang berminat: Turki, pelindung kekhalifahan dunia Islam, Amerika, Spanyol, Italia. Permainan ini cocok sekali bagi mereka, karena tidak seorang sultan pun dapat bertahan dalam kerajaannya sendiri tanpa selingkuh. Di Sumatera dan Malaka adat penggantian raja begitu rumit sehingga selalu saja ada saingan dan calon-calon pengganti yang kecewa. Kalau sultan sendiri tidak mencari bantuan pada sebuah negara Eropa, maka saingansaingannyalah yang mencari bantuan. Para pejabat pemerintah dan para konsul di Pinang, Singapura, Muntok, dan Batavia sering kali mempunyai urusan dengan keturunan raja Melayu atau Sumatera yang "datang menawarkan kerajaan mereka".
Sayang menyayangi Berkenaan cubit perut kanan perut kiripun terasa juga ini peribasa orang tuha dulu seperti sebujur jasad badan atau tubuh jika salah satu anggota bagian badan sakit maka seluruh jasat akan merasa sakit juga terasa sakit saling bertangung jawab rasa sakit tersebut walapun kita berbeda daerah maupun kabupaten kita tetap satu juga tapi di sebabkan kalimat lailahaillah muhammaddurasullah yang rengang di rapatkan yang sakit di obatkan ,itulah kalau kita pergi kemekah  walaupun di mekah itu negeri orang punyanya ada datang dari orang berbeda-beda tidak terasa kita tetap saling membantu tidak dikira beriman tidak sempurna keimanan kamu sehinggalah menyayangi saudara seagama kamu seperti kamu menyayangi diri kamu sendiri  kalau seseorang tidak sayangi orang lain maka imannya belum sempurna kasih sesama kita

Coba kita lihat sekarang kaum sesama islam kita dijakdikan tuhun kedudukan orang berbeda –beda memang sudah di tentukan oleh allah swt ada di jakan tuhan kedudukan nya begini ada ekonomi nya lebih bagus lagi reskizi di jadikan tuhan berbeda contoh kita di aceh orang islam disini melarat orang islam ini senang
Berdasarkan penggalian sejarah, para ilmuwan percaya bahwa orang-orang sumerialah yang pertama kali mengembangkan sistem tulisan. Penggalian di bekas situs (lokasi) sumeria menunjukkan kumpulan tulisan, lazimnya berkutat tentang kegiatan ekonomi. Mula-mula tulisan sumeria berupa gambar yang menunjukkan benda, di sebut pictogram. Kemudian di kembangkan sehingga menjadi fonetik. Dengan berkembangnya tulisan, maka pujangga sumeria mampu menuangkan pikiran dan gagasan mereka dalam bentuk tulisan. Tulisan tersebut dilakukan pada lempengan tanah liat yang masih empuk karena di beri air. Kemudian di keringkan di sinar matahari sanpai keras. Hasil tulisan ini di simpan di perpustakaan kuil, pemerintah dan pribadi. Dengan demikian sekitar tahun 2700 S.M orang-orang sumeria telah mengenal perpustakaan tempat menyimpan karya tulisan mereka (sudah tentu yang di simpan ialah lempengan tanah liat, bukan buku).
Gagasan tulisan itu di tiru oleh tetangga sumeria ialah kerajaan Babylonia. Berkat kegigihan mereka, maka bahasa Babylonia yang di tulis dalam tulisan cuneiform menjadi bahasa diplomatik di kawasan Timur Tengah. ”Cuneiform“ yaitu sistem tulisan yang di gunakan oleh berbagai peradaban di Timur Tengah.
        
1.       Perpustakaan Mesir
 Perpustakaan yang ada semasa Mesir purba ialah perpustakaan kuil serta perpustakaan raja, misalnya perpustakaan Khufu, raja dari Dinasti Keempat dan perpustakaan Khafre, pembangun piramid yang kedua. Koleksi perpustakaan Mesir dihitung dalam bentuk gulungan papirus, bukannya eksemplar seperti yang kita lakukan saat ini. Gulungan papirus yang ditemukan berisi pengetahuan tentang agama, filsafat, sejarah dan ilmu pengetahuan.


2.       Perpustakaan Yunani
Pada abad keenam S.M. perpustakaan telah ada di Yunani, misalnya perpustakaan Athenaeus (Athena) dan Polycrates (di pulau Samos) serta perpustakaan Euripides. Peradaban Yunani purba mencapai puncaknya pada abad kelima Sebelum Masehi di bawah pemerintahan Pericles. Pada waktu itu perdagangan buku, kemudian tumbuhlah kebiasaan membaca sebagai kegiatan mengisi waktu kosong. Pada waktu itu hiduplah Aristoteles (384-322 S.M.), dianggap sebagai orang yang pertama kali mengumpulkan, melestarikan dan menggunakan buku dari masa lampau.
 Di Asia kecil (kini wilayah Turki) berkembanglah kerajaan Pergamum. Pada abad kedua Sebelum Masehi, Eumenes II mendirikan sebuah perpustakaan serta giat mencari manuskrip Yunani. Bila tidak ditemukan manuskrip, maka dibuatkan salinannya. Untuk keperluan penyalinan naskah Yunani ini kerajaan Pergamum memerlukan sejumlah besar papirus yang diimpor dari Mesir. Namun raja Mesir mengkhawatirkan bahwa Pergamum akan menyaingi koleksi perpustakaan Iskandaria sehingga semasa Ptolemaeus VII dikeluarkan larangan ekspor papirus ke Pergamum. Akibat larangan itu Pergamum berusaha menemukan pengganti bahan tukis. Temuan mereka disebut parchmen, bahan tulis terbuat dari kulit binatang khususnya domba atau anak sapi muda. Berkat penemuan parchmen, koleksi perpustakaan Pergamum mencapai 200,000 gulungan.
Kelak koleksi perpustakaan Pergamum diserahkan oleh Anthonius kepada Ratu Cleopatra, seterusnya menambahkannya pada serapeum di Iskandaria sehingga perpustakaan Iskandaria merupakan perpustakaan terbesar di dunia pada zaman gan itu.

b. Awal Abad Menengah  
Berdirinya perpustakaan pertapaan sekitar tahun 529 yang di dirikan oleh St. Benedictus. Selain mendirikan pertapaan, juga membina pemukiman keagamaan di Subiaco di Italia serta pertapaan yang besar di Monte Cassino. Pertapaan ini kelak dihancurkan Sekutu karena digunakan oleh pasukan Jerman untuk menembaki Sekutu. St. Benedictus juga mengeluarkan aturan keagamaan dan moral dan ketentuan khusus tentang perilaku dan kebaktian. Walaupun bacaan pada masa kebaktian menyiratkan perlunya keberadaan sebuah perpustakaan, satu-satunya kegiatan mental yang dianjurkan pertapaan adalah kegiatan yang langsung berkaitan dengan perkembangan rohaniah. Pada abad keenam, pertapaan menjadi pusat pengajaran dan pelestarian semua manuskrip, baik menyangkut keagamaan maupun yang awam. Inilah awal perpustakaan pertapaan. Titik awal ini dimulai oleh Cassiodorus.
Cassiodorus bercita-cita mendirikan pusat kajian dan pengajaran sastra Kristen. Cita-citanya tak terkabul. Setelah pensiun, ia mendirikan masyarakat pertapaan Vivarium (sekitar tahun 540 atau 553).

c. Abad Menengah tahun 850 – 1200
 Pada abad kedelapan dan sembilan Bagdad merupakan pusat kajian karya Yunani. Bagdad berkembang menjadi kota besar, di sana berkumpul dokter, ilmuwan, untuk mengkaji dan menerjemahkan karya Yunani dalam bidang kedokteran, ilmu pengetahuan dan filsafat ke dalam bahasa Arab. Puncak kegiatan terjemahan terjadi semasa pemerintahan Abbasid Al-Mamum yang mendirikan graha kebijaksanaan pada tahun 830. Bidang yang khusus diperdalam ialah kedokteran, matematika dan ilmu alam, karya-karya Plato, Aristoteles, Hipocrates dan Galen; kesemuanya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

d. Abad Menengah Akhir
Petrarch (sekitar 1304-13740 mengakui nilai-nilai intelektual dan kultural literatur latin dan yunani kuno. Ia menekankan kajian yang lebih bersifat manusiawi pada penulis-penulis Yunani dan Latin kuno daripada menekankan aspek teologis seperti halnya yang dilakukan oleh ilmuwan abad menengah. Petrarch menelusuri perpustakaan pada pertapaan mencari manuskrip. Usahanya berhasil menemukan karya latin yang dianggap telah musnah.
Kira-kira separo dari buku yang dicetak pada abad 15 merupakan buku keagamaan seperti Alkitab. Karya pujangga gereja, panduan untuk pertapaan dan traktat keagamaan. Publikasi lain ialah ensiklopedia, panplet, kelender, epistola, buku tantang Matematika dan astronomi. Buku yang dicetak sebelum tahun 1501 disebut Incunabula.
Salah satu perpustakaan pribadi yang menonjol pada abad ke-15 adalah perpustakaan Duke Arbino, berisi salinan semua pengarang Yunani dan latin yang berhasil ditemukan serta semuanya ditulis tangan. Berkat penemuan mesin cetak dengan menggunakan jenis huruf yang dapat ditukar-tukar, maka buku yang dihasilkan semakin banyak dan lebih cepat.

e. Dari abad ke 17 hingga abad 20
Semangat ilmiah pada abad ke-17 juga mendorong penulisan tentang sejarah, perencanaan, organisasi dan administrasi perpustakaan, serta klasifikasi dan  susunan bahan perpustakaan. Pada tahun 1602 Justus Lipsius menerbitkan buku De Bibliothesis Syntagma, merupakan dasar sejarah modern perpustakaan.
 Pada abad ke-18 dan 19 berbagai perpustakaan nasional didirikan di benua Eropa. Misalnya La Biblioteca Nazionale Centrale di Florence (Italia), Kungliga Biblioteket di Stockhlom, Koninklijke Bibloiteek di Den Haag (Belanda). Disamping itu juga berbagai perpustakaan pribadi didirikan pada abad-abad tersebut. Perkembangan tersebut menonjol di Inggris, salah satu sisanya yang masih utuh hingga sekarang adalah perpustakaan pribadi Samuel Peppys dengan koleksi 3000 buku, sejarahwan terkenal Edward Gibbon berisi sekitar 7000 buku. Milik pribadi Sir Hans Sloane berjumlah 40.000 serta 3576 manuskrip.
Sekitar abad 19, kebiasaan membaca sudah menyebar hingga kelapisan masyarakat bawah. Membaca bertujuan memperoleh instruksi, informasi, kepentingan politik, hiburan dan rohani. Pada tahun 1850 parlemen Inggris mengeluarkan Public Library Art yang memberi izin kepada Dewan Perwakilan Rakyat setempat mendirikan perpustakaan dan membantunya melalui pajak. Salah satu perpustakaan yang dibuka pertama kali di Inggris adalah perpustakaan umum Manchester. Dari pengalaman perpustakaan umum Manchester, berkembanglah prinsip jasa perpustakaan umum yang tetap berlaku hingga sekarang prinsip tersebut adalah:
a.       jasa perpustakaan umum harus diberikan secara Cuma-Cuma bagi setiap warga yang memerlukannya.
b.      Jasa perpustakaan umum merupakan tanggung jawab lokal dan biayanya ditanggung bersama oleh pembayar pajak, dengan tidak memandang apakah pembayar pajak tersebut menggunakan perpustakaan atau tidak.
c.       Koleksinya mencakup semuajenis buku dalam semua aspek.

Prinsip tersebut kelak juga digunakan oleh UNESCO yang mengeluarkan manifesto perpustakaan umum pada tahun 1972. Akhir abad 19, jasa perpustakaan umum meluas ke seluruh Inggris, negara Skundinavia dan Eropa. Pada akhir abad tersebut berkembanglah perpustakaan universitas dan nasionla yang besar di seluruh Eropa.

2. Sejarah Perpustakaan Indonesia
  1. Zaman Kerajaan Lokal
Pada zaman kerajaan lokal, di seluruh Indonesia muncul berbagai kerajaan, ada yang besar ada yang kecil. Kerajaan tersebut umumnya tidak memiliki perpustakaan, namun mereka memiliki kumpulan naskah kuno atau manuskrip.
Sebagai pekerja di dunia pendidikan dan pernah menjadi seorang mahasiswa, tanggung jawab seorang berpendidikan itu besar. Tidak ada bedanya juga seperti halnya pustakawan , bukan hanya membagi informasi dan menyediakan informasi itu sendiri tapi lebih pada bagaimana kita mendidik anak manusia  untuk menjadi pribadi yang baik, yang berguna untuk kehidupan dia sendiri dimasa yang semakin penuh persaingan.

Selama saya menuntut ilmu di kampus banyak sekali dosen yang saya sukai, bukan hanya karena dosen itu asyik, cantik atau ganteng tapi karena dosen itu mampu mengarahkan mahasiswa dalam memberi materi pelajaran. Dan memang benar kalau memberi materi kepada mahasiswa dapat membangun sebuah harapan tentang pandangan hidup seorang pustakawan akan menjadi di masa yang akan datang juga jelas dengan pengaruhnya di dunia pendidikan dan tidak membuat mahasiswa jauh dari stress akibat pengangguran.

Namun semua profesi memiliki hambatan rintangan masing – masing sama juga dengan profesi pustakawan yang selalu kita jalani bersama antara anda, saya dan mereka. Sehingga telah membentuk diri kita menjadi seperti sekarang ini. Profesi pustakawan dalam keseharian saya  telah mengajarkan arti kerja keras untuk mendapatkan tujuan, mengajarkan arti kesabaran saat harapan tak sesuai dengan kenyataan, mengajarkan arti kasih sayang untuk memberikan pelayanan yang terbaik, dan mengajarkan arti kepuasan disaat mereka memperoleh ilmu atau hal yang ingin mereka cari. Dalam arti agama bahwa kita hanyalah seorang makhluk yang kecil dan tidak bisa berbuat apa- apa, kecuali atas izin dan pertolongan dariNya.

Untuk memajukan profesi pustakawan menurut pustakawan ialah peranan karakter atau tingkah laku kerja seorang pustakawan harus lebih aktif dalam bekerja sama dengan profesi lain sehingga sumbangan tenaga maupun pemikiran dari pustakwan mampu neningkatkan derajat social profesi pustakawan di suatu instansi daerah pemerintahan. Lebi lagi pustakawan mampu menyerap berbagai sumber disiplin ilmu bukan hanya ilmu perpustakaan saja.
SISTEM pendidikan di Indonesia memang UNIK dan ANEH. Semua permasalahan pendidikan, termasuk KUALITAS yang rendah, selalu dibebankan kepada siswa/mahasiswa. Perbaikan BUKAN meningkatkan kualitas sistem pendidikan melalui menerapkan Total Quality Management in Education (TQME) tetapi menambah beban belajar kepada siswa/mahasiswa.
Mengikuti sistem pendidikan di negara-negara maju, peran guru/dosen yang HARUS menutupi gap (kesenjangan) antar-siswa/mahasiswa dalam kelas, sehingga TIDAK ADA istilah siswa/mahasiswa tahan kelas atau TIDAK LULUS. Sebaliknya di Indonesia para siswa/mahasiswa yang ditambah beban belajarnya, BUKAN guru/dosen yang "dimotivasi" untuk belajar bagaimana meningkatkan kualitas proses pembelajaran sehingga lulusan dari sistem pendidikan dapat berkompetisi di pasar tenaga kerja global.
Contoh nyata dalam Peraturan Mendikbud RI No. 049 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Agar meningkatkan  "kualitas pendidikan tinggi", maka jumlah SKS untuk mahasiswa pascasarjana (S2) ditambah dari 36 SKS menjadi 72 SKS, yang berarti lama studi yang normal selama empat semester ditambah menjadi sekitar delapan semester (empat tahun).  Pada saat yang sama, pendidikan pascasarjana (S2) dalam bidang bisnis (seperti MBA/MM) di USA sedang dipertimbangkan untuk dikurangi dari lama belajar selama dua tahun menjadi satu tahun, karena negara-negara di Eropa sekarang telah menyelenggarakan pendidikan MBA/MM dalam waktu 10-12 bulan saja.
Sekolah-sekolah bisnis di Eropa, meskipun memberlakukan jalur cepat untuk memperoleh MBA/MM hanya dalam maksimum 12 bulan (selama empat periode @tri-wulan), tetapi sekolah-sekolah itu  bereputasi kelas dunia melalui terakreditasi AACSB (The Association to Advance Collegiate Schools of Business). Sedangkan di Indonesia baru hanya ada satu sekolah yang terakreditasi AACSB, yaitu: Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM (itupun akreditasi AACSB baru diperoleh Mei 2014, dalam proses yang panjang dan berliku sekitar delapan tahun).

Selasa, 17 Agustus 2010

yushar

dafta isi
BAB I. bagaimana cara mengikuti kuliah

Ketika kita mendengar kata perpustakaan, dalam benak kita langsung terbayang sederetan buku-buku yang tersusun rapi di dalam rak sebuah ruangan. Pendapat ini kelihatannya benar, tetapi kalau kita mau memperhatikan lebih lanjut, hal itu belumlah lengkap. Karena setumpuk buku yang diatur di rak sebuah toko buku tidak dapat disebut sebagai sebuah perpustakaan.
Ada dua unsur utama dalam perpustakaan, yaitu buku dan ruangan. Namun, di zaman sekarang, koleksi sebuah perpustakaan tidak hanya terbatas berupa buku-buku, tetapi bisa berupa film, slide, atau lainnya, yang dapat diterima di perpustakaan sebagai sumber informasi. Kemudian semua sumber informasi itu diorganisir, disusun teratur, sehingga ketika kita membutuhkan suatu informasi, kita dengan mudah dapat menemukannya.
Dengan memperhatikan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa perpustakaan adalah suatu unit kerja yang berupa tempat menyimpan koleksi bahan pustaka yang diatur secara sistematis dan dapat digunakan oleh pemakainya sebagai sumber informasi.
Perpustakaan sekolah merupakan salah satu jenis perpustakaan pada umumnya yang terbentuk dalam suatu lembaga yang dinamakan sekolah. Perpustakaan ini didirikan agar kegiatan belajar-mengajar yang digariskan dalam kurikulum dapat berjalan dengan lancar. Adapun para pemakai perpustakaan sekolah adalah orang- orang yang berada dalam lingkungan sekolah, yaitu guru, karyawan, dan yang terutama adalah para siswa sekolah itu.
Salah satu layanan yang diberikan adalah pengadaan bahan-bahan pustaka yang menunjang kurikulum, dengan harapan para siswa dapat mempertinggi daya serap dan penalaran proses pendidikan. Sementara para guru dapat memperluas cakrawala pengetahuannya dalam kegiatan mengajar. Demikian pula dengan para karyawan selain guru, perpustakaan diharapkan dapat membantu mereka untuk lebih menghayati tugasnya masing- masing.
Namun, dalam kenyataannya, perjalanan perpustakaan sekolah tidaklah semulus yang diharapkan. Ada beberapa hal yang sering menghambat fungsi perpustakaan sekolah.
Pertama, terbatasnya ruang perpustakaan di samping letaknya yang kurang strategis. Banyak perpustakaan yang hanya menempati ruang sempit, dengan tanpa memperhatikan kesehatan dan kenyamanan. Kesadaran dari pihak sekolah sebagai penyelenggara sangatlah kurang. Perpustakaan hanyalah untuk menyimpan koleksi bahan pustaka saja. Pengunjung tidak merasa nyaman membaca buku di perpustakaan, sehingga perpustakaan dipandang sebagai tempat yang kurang bermanfaat. Dengan melihat keadaan di atas sepertinya pihak sekolah kurang menyadari tentang pentingnya perpustakaan. Keberadaan perpustakaan hanyalah untuk pelengkap saja.
Kedua, keterbatasan bahan pustaka, baik dalam hal jumlah, variasi maupun kualitasnya. Keberadaan bahan-bahan pustaka yang bermutu dan bervariasi sangatlah penting. Dengan banyaknya variasi bahan pustaka, anak akan semakin senang berada di perpustakaan, kegemaran membaca dapat tumbuh dengan subur sehingga kemampuan bahasa siswa dapat berkembang baik dan dapat membantu anak dalam memahami pelajaran-pelajaran lainnya. Mengingat kemampuan bahasa merupakan kemampuan dasar yang sangat berpengaruh dalam belajar. Begitu juga jika bahan pustakanya bermutu, maka anak akan banyak memperoleh pengetahuan yang berguna dalam hidupnya. Namun, untuk mengadakan bahan pustaka yang banyak dan bervariasi dibutuhkan dana yang sangat besar, mengingat harga bahan pustaka biasanya mahal, lebih-lebih jika bahan pustaka tersebut bermutu. Namun, dari pihak sekolah sendiri sering kurang berusaha untuk menambah koleksi bahan pustaka, dengan alasan utama adalah mahalnya harga bahan pustaka. Padahal, anggaran untuk belanja bahan pustaka setiap tahunnya selalu ada, namun jumlah bahan pustaka tidak pernah bertambah.
Ketiga, terbatasnya jumlah petugas perpustakaan (pustakawan). Banyak perpustakaan sekolah yang tidak ada petugasnya, atau hanya tugas sambilan. Maksudnya, mereka bukan petugas yang hanya mengurus perpustakaan saja, sehingga sering tugas di perpustakaan jadi dikesampingkan dan perpustakaan dianggap kurang bermanfaat. Lebih-lebih bertugas di perpustakaan adalah pekerjaan yang sangat menjenuhkan, baik dalam hal pelayanan pengunjung maupun perawatan bahan pustaka yang ada, sehingga dibutuhkan suatu kesabaran yang tinggi.
Keempat, kurangnya promosi penggunaan perpustakaan menyebabkan tidak banyak siswa yang mau memanfaatkan jasa layanan perpustakaan. Anak kurang tahu tentang kegunaan perpustakaan, begitu juga dengan bahan pustakanya. Dia membutuhkan dorongan dan ajakan untuk berkunjung ke perpustakaan.
Kurangnya ajakan untuk mengunjungi perpustakaan menjadikan anak asing terhadap perpustakaan. Untuk tahap-tahap awal, anak perlu dipaksa masuk perpustakaan, yaitu dengan jalan memberi tugas membaca buku dan kemudian menceritakan atau membuat laporan. Lama-kelamaan hal itu menjadi kebiasaan yang positif dan mereka akan merasa membutuhkan perpustakaan.
Bahan pustaka merupakan aset utama yang sangat berharga bagi perpustakaan, sehingga pihak perpustakaan harus sungguh-sungguh dalam menjaga dan merawat bahan pustaka yang ada. Dengan perawatan bahan pustaka secara baik, pihak perpustakaan tinggal menambah secara berangsur-angsur, sedikit tapi pasti. Baik melalui belanja sekolah atau dengan program pengumpulan buku-buku, baik buku baru dan buku bekas, dapat berupa sumbangan dari pemerintah ataupun sumbangan dari siswa setelah lulus. Atau, bisa juga bekerja sama dengan sekolah lain dengan cara saling tukar bahan pustaka. Dengan demikian, pelan tapi pasti banyaknya bahan pustaka akan dapat mengobati keinginan dari penggunanya.
Keengganan anak ke perpustakaan bisa juga karena yang tersedia di perpustakaan kurang menarik bagi anak. Maksudnya, jenis bahan pustaka yang ada kurang disenangi anak, sehingga keberadaan bahan pustaka di perpustakaan kurang dapat menarik anak. Dengan melihat hal tersebut, maka sangatlah perlu untuk diadakan penelitian tentang minat baca dengan tujuan untuk mengetahui jenis-jenis bacaan yang menjadi kesukaan anak. Jangan sampai terjadi pembelian buku yang banyak dan dengan mengeluarkan uang banyak namun sia-sia, tidak ada yang mau membacanya.

yushar

membaca belajar
bila anda ingin mengetahui dan mengingat hal-hal yang penting dan detail dari sebuah buku ,maka anda harus membaca belajar.
apakah yang anda akan lakukan dalam membaca belajar...?
  • arahkan pandangan anda pada keseluruhan hal.
  • bacalah dengan seksama .buatlah catatan dan garis bawahi kata-kata tertentu . bilamana anda telah selesai membaca satu bab ,bacalah kembali dan perhatikan khusus hal-hal pokok.
  • bacalah buku itu secara sepintas