Letak yang jauh dari perkotaan tidak membuat sekolah ini
tersingkirkan dari niat dan minat siswa untuk masuk kesekolah tersebut, hal ini
yang saya lihat sekilas pada saat pertama saya berkunjung ke Sekolah Menengah
Akhir Kembang Tanjung, namun tujuan saya bukan untuk melihat jumlah kuantitas
siswa di sekolah ini melainkan kualitas sumber ilmu pendidikan atau biasa di
sebut PERPUSTAKAAN SEKOLAH inilah tujuan pokok saya yang jauh di kawasan sigli.
Pada saat kunjungan di perpustakaan sekolah, saya melihat Keadaan
Perpustakaan antar sekolah menengah atas yang sudah saya kunjungi tidak ada
perbedaan yang jauh bahkan persis sama
kalaupun ada, yang membedakan Cuma ruangan saja.
Keadaan inilah yang membuat jiwa kenyamanan ini, ingin saya
tinggalkan rasa santai atau rasa nyaman tersebut maka saya mengambil tanggung jawab dengan
membentuk Komunitas Pustakawan Kreatif Pidie (KPK)Pidie, dengan tujuan awal
yaitu memudahkan setiap pengguna perpustakaan mendapatkan bahan informasi
dengan cepat dan tepat.
Setelah terbentuk sebuah wadah tersebut Atau tepatnya pada tanggal 22-10-2015. Mulai
saat itu maka saya ingin bertekad dalam
diri saya pribadi untuk berbuat sekecil mungkin demi sebuah perubahan, dari
sinilah perjuangan saya dimulai ya namanya awal membangun tanpa adanya bantuan
saya ingin mandiri maka saya mulai mendatangi setiap sekolah dengan menawarkan
program automasi perpustakaan dan berharap mereka pihak terkait di sekolah mau
mengeluarkan uang 500ribu untuk instal dan memahami kegunaannya.
Berbagai macam kendala maupun hal-hal hambatan yang saya
terima, saya yakin kita menawarkan sesuatu kepada seseorang lebih sulit dari
pada mereka menanyakan sesuatu kepada kita inilah berkaitan faktor kebutuhan.
Saya tetap menawarkan ke setiap sma yang letaknya di seputaran kawasan kota
sigli sambil berharap mereka mau bekerja sama membangun perpustakaan di sekolah
mereka masing-masing. Setelah bertamu kehampir beberapa SMA di kawasan Kota
sigli tanpa ada hasil yang memuaskan,
maka saya memberanikan diri meluaskan jaringan atau jangkauan di luar kawasan
kota sigli karena saya yakin setiap kerja keras pasti akan membuahkan hasil
kebahagian dan setiap perjuangan pasti akan datang keberhasilan.
Hingga akhirnya setelah beberapa jumlah sekolah yang saya
datangi tak membuahkan hasil disinilah SMA beserta pihak sekolah bersedia
memberikan 500Ribu demi menciptakan awal perubahan dalam mengelola sumber
informasi. Saya atas nama Muhammad Yushar,s.ip selaku Penggagas KPK pidie mengucapkan
terima kasih telah menjadi mitra dalam menuju awal mula pengelolaan perpustakaan
yang sistematis. Tidak hanya ucapan terima kasih kami juga memberikan
penghargaan sebagai perpustakaan sekolah pertama yang menjalin kerja sama Dan
akhirnya setelah saya tidak tahu lagi berapa sudah sekolah yang saya datangi
|
: Visi dan Misi Perpustakaan ::
|
||
|
Perpustakaan
Universitas Tarumanagara mengemban tugas utama menunjang pelaksanaan Tri
Dharma Perguruan Tinggi di Universitas Tarumanagara (Pendidikan dan
pengajaran,Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat).
Dalam melaksanakan tugas utamanya,Perpustakaan perlu menyelaraskan dengan Visi dan Misi Universitas Tarumanagara. Seperti telah dirumuskan,Visi Universitas Tarumanagara adalah “Menjadi universitas yang diakui keunggulannya di dalam negeri dan diperhitungkan di kancah regional”. Sedangkan Misinya ada empat hal,yakni: Pertama,melaksanakan pendidikan untuk menghasilkan lulusan yang berbudi luhur. Kedua,melaksanakan pembelajaran untuk menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan,teknologi dan seni. Ketiga,melaksanakan pelatihan untuk menghasilkan lulusan yang terampil. Keempat adalah mengusahakan temuan dan rekacipta di bidang ilmu pengetahuan,teknologi dan seni melalui penelitian dan perancangan. Berkaitan dengan tugas dan tanggungjawab tersebut maka Perpustakaan Universitas Tarumanagara memilih motto ‘Pro Excelentia Academia’. Makna motto tersebut berarti ‘mendukung terwujudnya keunggulan kampus’ atau ‘demi keunggulan kampus’. Ide dan semangat yang terkandung di dalam motto tersebut selaras dengan Visi dan Misi Universitas Tarumanagara. Harapannya,agar Perpustakaan mampu berperan aktifemberikan kontribusi optimal untuk mewujudkan Visi dan Misi dimaksud. Seiring dengan meningkatnnya kebutuhan informasi ilmiah serta pesatnya perkembangan Ipteks,maka Perpustakaan terus berupaya mengembangkan diri dan berusaha untuk meningkatkan mutu layanannya. Berkaitan dengan upaya tersebut, Perpustakaan telah mendapatkan dukungan penuh dari Pusat Komputer (Puskom) Universitas Tarumanagara. Puskom telah berhasil menciptakan dan mengembangkan sendiri program aplikasi Sistem Informasi Perpustakaan Universitas Tarumanagara (SIP Untar). Pengembangan program terus dilakukan. Tanggal 9 September 2004 patut dicatat sebagai langkah awal Perpustakaan ‘on line’. Meskipun relative masih terbatas menyajikan data catalog, Perpustakaan mulai tanggal tersebut telah dapat diakses melalui web site Universitas Tarumanagara (www.tarumanagara.ac.id.). Sesuai dengan motto ‘Pro Excelentia Academia’ Perpustakaan Universitas Tarumanagara akan terus mengembangkan diri agar mampu berperan optimal sebagai mediator dan sumber informasi Ipteks yang semakin lengkap dan mutakhir, sebagai ‘pusat belajar’ maupun sebagai ‘agen perubahan’ demi kemajuan Kampus Universitas Tarumanagara serta memberikan andil rangka membangun bangsa dan negara Indonesia yang lebih maju,adil dan sejahtera |
||
Hingga saat ini masalah pendidikan masih menjadi perhatian
khusus oleh pemerintah. Pasalnya Indeks Pembangunan Pendidikan Untuk Semua atau
education for all (EFA) di Indonesia menurun tiap tahunnya. Tahun 2011
Indonesia berada diperingkat 69 dari 127 negara dan merosot dibandingkan tahun
2010 yang berada pada posisi 65. Indeks yang dikeluarkan pada tahun 2011 oleh
UNESCO ini lebih rendah dibandingkan Brunei Darussalam (34), serta terpaut
empat peringkat dari Malaysia (65).
Salah satu penyebab rendahnya indeks pembangunan pendidikan
di Indonesia adalah tingginya jumlah anak putus sekolah. Sedikitnya setengah
juta anak usia sekolah dasar (SD) dan 200 ribu anak usia sekolah menengah
pertama (SMP) tidak dapat melanjutkan pendidikan. Data pendidikan tahun 2010
juga menyebutkan 1,3 juta anak usia 7-15 tahun terancam putus sekolah. Bahkan
laporan Departeman Pendidikan dan Kebudayaan menunjukan bahwa setiap menit ada
empat anak yang putus sekolah.
Menurut Staf Ahli Kemendikbud Prof. Dr. Kacung Marijan,
Indonesia mengalami masalah pendidikan yang komplek. Selain angka putus
sekolah, pendidikan di Indonesia juga menghadapi berbagai masalah lain, mulai
dari buruknya infrastruktur hingga kurangnya mutu guru. Masalah utama
pendidikan di Indonesia adalah kualitas guru yang masih rendah, kualitas
kurikulum yang belum standar, dan kualitas infrastruktur yang belum memadai.
Dalam dunia pendidikan guru menduduki posisi tertinggi dalam
hal penyampaian informasi dan pengembangan karakter mengingat guru melakukan
interaksi langsung dengan peserta didik dalam pembelajaran di ruang kelas.
Disinilah kualitas pendidikan terbentuk dimana kualitas pembelajaran yang
dilaksanakan oleh guru ditentukan oleh kualitas guru yang bersangkutan.
Secara umum,
kualitas guru dan kompetensi guru di Indonesia masih belum sesuai dengan yang
diharapkan. Dari sisi kualifikasi pendidikan, hingga saat ini dari 2,92 juta
guru baru sekitar 51% yang berpendidikan S-1 atau lebih sedangkan sisanya belum
berpendidikan S-1. Begitu juga dari persyaratan sertifikasi, hanya 2,06 juta
guru atau sekitar 70,5% guru yang memenuhi syarat sertifikasi sedangkan 861.670
guru lainnya belum memenuhi syarat sertifikasi.
Dari segi penyebarannya, distribusi guru tidak merata.
Kekurangan guru untuk sekolah di perkotaan, desa, dan daerah terpencil
masing-masing adalah 21%, 37%, dan 66%. Sedangkan secara keseluruhan Indonesia
kekurangan guru sebanyak 34%, sementara di banyak daerah terjadi kelebihan
guru. Belum lagi pada tahun 2010-2015 ada sekitar 300.000 guru di semua jenjang
pendidikan yang akan pensiun sehingga harus segera dicari pengganti untuk
menjamin kelancaran proses belajar.
Kurikulum pendidikan di Indonesia juga menjadi masalah yang
harus diperbaiki. Pasalnya kurikulum di Indonesia hampir setiap tahun mengalami
perombakan dan belum adanya standar kurikulum yang digunakan. Tahun 2013 yang
akan datang, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan akan melakukan perubahan
kurikulum pendidikan nasional untuk menyeimbangkan aspek akademik dan karakter.
Kurikulum pendidikan nasional yang baru akan selesai digodok pada Februari 2013
itu rencananya segera diterapkan setelah melewati uji publik beberapa bulan
sebelumnya.
Dulu waktu masih jaman menimba ilmu
di Madrasah Ibtidaiyah (MI)—setingkat SD—saya ingat sistem pendidikan
Indonesia masih menggunakan catur wulan. Dimana dalam setiap tahun ajaran itu
dibagi menjadi 3 sesi, catur wulan pertama, kedua, dan ketiga.
Di setiap akhir catur wulan
tersebut diadakan evaluasi berupa ujian catur wulan yang nilai hasil evaluasi
tersebut diakumulasikan hingga catur wulan yang terakhir, catur wulan ketiga.
Di sesi paling akhir ini tentunya menjadi penentu kelulusan seorang siswa
selama setahun belajar di kelas. Tentunya seorang guru di sini harus mampu
melihat sejauh mana perkembangan belajar siswa-siswanya guna menentukan
keputusan akhir yang diwujudkan dalam bentuk nilai di dalam rapor. Sistem
pendidikan semacam ini adalah kurikulum 1994.
Model
kurikulum ini orientasinya adalah bahwa pembelajaran terletak pada Pengalaman Belajar.
Artinya bahwa dalam proses pembelajaran diharapkan siswa merasakannya sebagai
sebuah pengalaman, yang membuatnya selalu mengingat pelajaran tersebut.
Pendekatan pembelajaran dalam
pelaksanaan KBM diharapkan guru menerapkan prinsip belajar aktif. Yaitu
pembelajaran yang melibatkan siswa secara fisik, mental (pemikiran dan perasaan), dan sosial.
Kurikulum di atas merupakan
kurikulum ketiga setelah kurikulum 1976 dan 1984 yang secara resmi ditetapkan
oleh pemerintah lewat UU No.4 Tahun 1950 tentang Dasar-Dasar Pendidikan
dan Pengajaran di Sekolah. Juga UU No.12 Tahun 1954 tentang Pernyataan
Berlakunya UU No.4 Tahun 1950 dari Republik Indonesia Dahulu tentang
Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah untuk Seluruh Indonesia. Lalu,
UU No.22 Tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi, UU No.14 PRPS Tahun 1965 tentang
Majelis Pendidikan Nasional dan UU No.19 PNPS Tahun 1965 tentang Pokok-Pokok
Sistem Pendidikan Nasional Pancasila.
Seiring berjalannya waktu dan
jaman yang semakin berkembang, sistem pendidikan pun disesuaikan dengan kondisi
yang ada. Berbagai macam perubahan kurikulum yang dilakukan harapannya adalah
untuk menunjang kemajuan pendidikan di Tanah Air.
Hingga kemudian dilakukan
penghapusan sistem catur wulan dan diganti sistem semester (per 6 bulan) dengan
kurikulum yang berbasis kompetensi yang mulai diterapkan pada tahun 2004 atau
yang kita kenal dengan sebutan kurikulum 2004 (KBK).
Pada kurikulum 2004 ini dalam
hal pembelajaran, diarahkan untuk mendorong individu belajar sepanjang hayat
dan mewujudkan masyarakat belajar.
Kegiatan belajar mengajar,
dilandasi oleh prinsip:
1. berpusat pada peserta didik;
2. mengembangkan kreativitas peserta didik; 3. menciptakan kondisi menyenangkan
dan menantang; 4. mengembangkan beragam kemampuan yang bermuatan nilai; 5.
menyediakan pengalaman belajar yang beragam dan; 6. belajar melalui berbuat.
Kurikulum 2004 ini berjalan selama kurun waktu dua tahun. Jika mengikuti
perkembangan pendidikan di Indonesia sebenarnya KBK ini baru merupakan draft
yang belum ditandatangani oleh menteri.
Tentunya akan muncul
pertanyaan, kenapa baru draft kok sudah dilaksanakan? Bukankah nantinya akan
membuat sebuah kebingungan baru ketika sistem yang belum sepenuhnya siap akan
tetapi sudah dijalankan? Semua berpulang pada keinginan pemerintah menjawab
tantangan revolusi pendidikan yang terjadi, memasuki orde reformasi.
Dan pada kenyataannya di
lapangan, sebenarnya kurikulum KBK merupakan uji coba sebuah kurikulum untuk
mendapatkan sebuah format kurikulum yang dirasa cocok. setelah sebelumnya
diujicobakan kurikulum ini di beberapa sekolah yang ditunjuk.
Setelah 2 tahun kurikulum ini
dijalankan kemudian muncul format baru sistem pendidikan di Indonesia yakni
kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Makna dari
kurikulum ini sendiri adalah kurikulum operasional yang disusun dan
dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan (sekolah).
Di KTSP ini komponennya terdiri
atas:
1. visi, misi, dan tujuan
pendidikan tingkat satuan pendidikan; 2. struktur dan muatan KTSP; 3. kalender
pendidikan; 4. silabus, dan; 5. RPP. Pada KTSP, visi dan misi sudah ada dan
dimiliki oleh setiap satuan pendidikan. Sedang tujuan pendidikan dasar adalah
meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta
keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Pengembangan kurikulum ini didasarkan pada PP No.19 Tahun 2005 tentang
SNP (Standar Nasional Pendidikan) pasal 17, yang menyebutkan bahwa:
1) kurikulum tingkat satuan pendidikan dikembangkan sesuai dengan satuan
pendidikan, potensi/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat, dan
karakteristik peserta didik, 2) sekolah dan komite sekolah/madrasah
mengembangkan kurikulum satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka
dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan serta berpedoman pada panduan yg
disusun oleh BSNP. Dari berbagai macam kurikulum yang telah coba diterapkan di
Indonesia ini tentunya bisa kita rasakan sendiri apakah sudah menemui titik
klimaks solusi pendidikan di Indonesia atau belum? Bagaimanapun juga perubahan
sistem pendidikan yang terjadi harapannya adalah agar masyarakat Indonesia
mampu menyesuaikan diri dengan kondisi jaman.
Kemudian muncul “pameo” di
masyarakat, “ganti
menteri, ganti kurikulum”. Masyarakat
pun tentunya sudah tidak kaget lagi dengan berbagai macam aturan baru yang
diterapkan oleh pemerintah tersebut. Akan tetapi baik secara langsung ataupun
tidak langsung efek yang muncul dari gonta-gantinya sistem ini jelas sangat
terasa di masyarakat. Bisa dibilang ketika setiap tahun sekarang ini
siswa harus membeli buku materi baru karena referensi yang sebelumnya sudah
tidak terpakai lagi. Berbagai fasilitas penunjangnya pun juga harus disiapkan
oleh orang tua didik ketika sistem baru dilahirkan. Secara finansial jelas
sangat berdampak.
Kemudian di akhir tahun 2012
kemarin muncul wacana bahwa pada tahun 2013 akan diujicobakan kembali kurikulum
baru, yakni kurikulum 2013 yang meskipun belum pasti namun sudah membuatgegermasyarakat.
Ketika muncul pemberitaan bahwa
di kurikulum yang rencananya akan diujicobakan pada tahun ajaran 2013/2014 ini
mata pelajaran Bahasa Daerah akan dihapuskan. Isu ini jelas membuat para guru,
calon guru, dan masyarakat resah ketika kita tahu bahwa sekarang ini anak-anak sudah
kurang—bahkan banyak yang sudah tidak—mengenal lagi bahasa daerahnya
masing-masing. Misalnya saja di Jawa Tengah dan Jogjakarta ketika anak-anak
berbicara dengan teman sebayanya, gurunya, dan orang tuanya mereka sudah tidak
menggunakan bahasa Jawa lagi—apalagi bahasaKrama—tetapi
menggunakan bahasa Indonesia yang dirasa lebih mudah. Hal ini jelas akan
membuat moral bangsa menjadi semakin mungalami kemunduran ketika sudah tidak
dikenal lagi kearifan lokal dan keragaman bahasa Nusantara dan unggah-ungguh basa (sopan santun berbahasa) pun tentunya
semakin menghilang.
Kekhawatiran masyarakat ini
kemudian mendapat tanggapan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, M. Nuh
yang dalam statementnya
menyebutkan bahwa Bahasa Daerah tidak dihilangkan akan tetapi diintegrasikan
dengan beberapa mata pelajaran lain yang juga baru akan dimunculkan yakni mata
pelajaran Seni Budaya dan Prakarya dalam satu mata pelajaran “Muatan Lokal
(Mulok).”
Porsi mata pelajaran Muatan
Lokal ini adalah 4 jam tiap minggunya. Akan tetapi meskipun porsinya ditambah
tentunya muncul juga kekhawatiran ketika Seni Budaya dan Prakarya yang lebih
mempunyai nilai ekonomis akan membuat Bahasa Daerah semakin tersisihkan
perannya dalam pendidikan di Indonesia.
Bagaimanapun juga jika ingin
mengarahkan pendidikan berkarakter dirasa sangat penting untuk tetap mengadakan
mata pelajaran Bahasa Daerah secara khusus karena ini salah satu yang utama
setelah Pendidikan Agama untuk mendukung pendidikan berkarakter tersebut.
Bukankah dengan Pendidikan Agama dan Bahasa Daerah tersebut kita diajarkan
bertutur kata dan bertingkah laku secara sopan dan santun? Tentunya ini perlu
dikaji lebih mendalam lagi dan harus disesuaikan dengan lokalitas yang ada di
masing-masing daerah di seantero Nusantara.
Tulisan ini saya buat setelah
Jumat malam (28/12) mendiskusikan tentang sistem pendidikan di Indonesia
bersama sahabat Dalhar, Farid, dan Zaenul di sekretariat PMII Komisariat
Kentingan.
Mengingat sering adanya perubahan kurikulum pendidikan akan
membuat proses belajar mengajar terganggu. Karena fokus pembelajaran yang
dilakukan oleh guru akan berganti mengikuti adanya kurikulum yang baru.
Terlebih jika inti kurikulum yang digunakan berbeda dengan kurikulum lama
sehingga mengakibatkan penyesuaian proses pembelajaran yang cukup lama.
Dari dulu hingga sekarang masalah infrastruktur pendidikan
masih menjadi hantu bagi pendidikan di Indonesia. Hal ini dikarenakan masih
banyaknya sekolah-sekolah yang belum menerima bantuan untuk perbaikan sedangkan
proses perbaikan dan pembangunan sekolah yang rusak atau tidak layak dilakukan
secara sporadis sehingga tidak kunjung selesai.
Berdasarkan data Kemendiknas, secara nasional saat ini
Indonesia memiliki 899.016 ruang kelas SD namun sebanyak 293.098 (32,6%) dalam
kondisi rusak. Sementara pada tingkat SMP, saat ini Indonesia memiliki 298.268
ruang kelas namun ruang kelas dalam kondisi rusak mencapai 125.320 (42%). Bila
dilihat dari daerahnya, kelas rusak terbanyak di Nusa Tenggara Timur (NTT)
sebanyak 7.652, disusul Sulawesi Tengah 1.186, Lampung 911, Jawa Barat 23.415,
Sulawesi Tenggara 2.776, Banten 4.696, Sulawesi Selatan 3.819, Papua Barat 576,
Jawa Tengah 22.062, Jawa Timur 17.972, dan Sulawesi Barat 898.
Melihat begitu banyaknya masalah pendidikan di Indonesia
maka dibutuhkan solusi tepat untuk mengatasinya. Solusi yang dapat membatu
pemerintah untuk meringankan beban pendidikan di Indonesia.
Dalam meningkatkan mutu pendidikan, lembaga tersebut
melakukan pendampingan kepada guru-guru di Indonesia dan pemberian apresiasi
lebih kepada guru-guru kreatif. Pendampingan dilakukan dengan tujuan untuk
meningkatkan profesionalitas, kreatifitas, dan kompetensi guru dengan model
pendampingan berupa seminar, lokakarya, konsultasi, pelatihan dan praktek.
Pendampingan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan yang didukung oleh
pemerintah dan pihak terkait.
Lembaga tersebut juga memediasi masyarakat, pendidik, dan
pihak terkait lainnya untuk menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah dalam
memperbaiki kurikulum pendidikan. Diharapkan dengan adanya lembaga ini, ide-ide
kreatif untuk memperbaiki kurikulum pendidikan dapat tertampung dan pemerintah
dapat mempertimbangkan ide masyarakat untuk kebijakan yang dibuat.
Dalam meningkatkan kemampuan kepemimpinan guru, kepala
sekolah, dan pengelola sekolah, lembaga tersebut melakukan pendampingan guna
mewujutkan manajemen sekolah yang baik. Proses yang dilakukan berupa
konsultasi, lokakarya, dan pelatihan ditunjukan kepada guru, staf dan pimpinan
sekolah. Pihak manajemen sekolah diharapkan mampu membawa sekolah yang
dipimpinnya untuk berkembang dan meraih prestasi yang diharapkan.
Lembaga perantara tersebut juga berperan membantu manajemen
sekolah untuk mengembangkan kerjasama dengan instansi-instansi terkait guna
memperoleh dana pengembangan infrastruktur sekolah.Tidak hanya itu, lembaga
tersebut juga dapat menggalang dana dari sponsor untuk perbaikan bangunan
sekolah yang hampir rusak di wilayah terpencil.
Dukungan masyarakan, lembaga sosial, dan lembaga pers
memiliki fungsi dalam meningkatkan pemahaman pentingnya pendidikan melalui
penyebaran informasi. Oleh karena itu, lembaga tersebut mempunyai tugas untuk
meningkatkan dukungan tersebut dengan cara bekerja sama dengan pihak
masyarakat, lembaga sosial, dan pers. Dengan demikian informasi seputar perbaikan
mutu pendidikan di Indonesia dapat tersalurkan dengan mudah.
Untuk membatu mengatasi masalah pendidikan dibutuhkan adanya
lembaga yang membantu pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan, menjaring
kerjasama untuk memperoleh dana pendidikan, dan menggalang dukungan untuk
pendidikan yang lebih baik. Lembaga perantara tersebut bekerjasama dengan
pemerintah, pihak swasta, dan kelompok masyarakat untuk bersama-sama
memberbaiki kualitas pendidikan di Indonesia mengingat tanggung jawab
pendidikan merupakan tanggung jawab bersam
Pada beberapa perguruan tinggi diluar negeri mereka
memperkerjalakan dosen untuk mengajar di universitas mereka dari berbagai
negara, sementara itu di perguruan tinggi kita cenderung mengangkat dosen dari
lulusannya sendiri, sesuatu yang sangat di hindatri pada negara AS
Hanya pulau kecil Singapura yang dapat menjadi milik
Inggris, dengan menggunakan cara kolonial yang telah terkenal dengan memainkan
putra-putra mahkota yang kecewa. Semuanya gagal. Hanya Singapura yang berhasil
dan cukuplah ini.
Dia William H.M. Read Menurut dia, di Malaka
kesultanan-kesultanan banyak yang mudah diambil, asal saja Inggris mau berbuat.
Masyarakat aceh pada umumnya masih berada dalam proses
transisi dari budaya lisan menuju budaya tulisan. Kebiasaan membaca dan menulis
masih belumberkembang dengan sepenuhnya pada kalangan masyarakat. Kecendrungan
mendapatkan informasi melalui percakapan (dengan lisan) tampaknya masih lebih
kuat daripada melalui bacaan (dengan tulisan). Kecendrungan ini dapat dilihat
dari kenyataan bahwa minat baca dan kebiasaan membaca di kalangan siswa dan
mahasiswa relatif masih lemah dan kenyataan lainya anjuran yang sering
terdengar dari pihak pemerintah dan berbagai kalangan pemimpin masyarakat untuk
meningkatkan minat baca dan kebiasaan membaca adalah bukti kecendrungan
tersebut.
Pengertian pendidikan...............
Belajar di sekolah merupakan suatu proses. Berarti,ada
tatahp-tahapnya dan tahap pertama harus dijalani sebelum kita ke tahap kedua,
sedang semua tahap saling mempengaruhi satu sama lain dan seolah-olah hadir
terus dalam hasil akhir. belajar mengenai mata pelajaran dalam kurikulum dapat
dilihat sebagai suatu proses tersendiri.
Proses tersebut seperti dimulai dengan hari pertama belajar sampai diakhiri
dengan hari ujian akhir semester. Disini juga semua tahap saling mempengaruhi
Jangan seperti zaman dulu Dalam menghadapi negara-negara
kolonial para sultan dan saingan mereka mengikuti taktik yang sama seperti
nenek moyang mereka - dan dengan akibat-akibat bencana yang sama menimpa
mereka. Mereka berusaha mengadu Inggris dengan Belanda agar saling memerangi,
dan kalau mungkin beberapa negara lain lagi di Asia yang berminat: Turki,
pelindung kekhalifahan dunia Islam, Amerika, Spanyol, Italia. Permainan ini
cocok sekali bagi mereka, karena tidak seorang sultan pun dapat bertahan dalam
kerajaannya sendiri tanpa selingkuh. Di Sumatera dan Malaka adat penggantian
raja begitu rumit sehingga selalu saja ada saingan dan calon-calon pengganti
yang kecewa. Kalau sultan sendiri tidak mencari bantuan pada sebuah negara
Eropa, maka saingansaingannyalah yang mencari bantuan. Para pejabat pemerintah
dan para konsul di Pinang, Singapura, Muntok, dan Batavia sering kali mempunyai
urusan dengan keturunan raja Melayu atau Sumatera yang "datang menawarkan
kerajaan mereka".
Sayang menyayangi Berkenaan cubit perut kanan perut kiripun terasa juga ini peribasa orang tuha dulu seperti sebujur jasad badan atau tubuh jika salah satu anggota bagian badan sakit maka seluruh jasat akan merasa sakit juga terasa sakit saling bertangung jawab rasa sakit tersebut walapun kita berbeda daerah maupun kabupaten kita tetap satu juga tapi di sebabkan kalimat lailahaillah muhammaddurasullah yang rengang di rapatkan yang sakit di obatkan ,itulah kalau kita pergi kemekah walaupun di mekah itu negeri orang punyanya ada datang dari orang berbeda-beda tidak terasa kita tetap saling membantu tidak dikira beriman tidak sempurna keimanan kamu sehinggalah menyayangi saudara seagama kamu seperti kamu menyayangi diri kamu sendiri kalau seseorang tidak sayangi orang lain maka imannya belum sempurna kasih sesama kita
Sayang menyayangi Berkenaan cubit perut kanan perut kiripun terasa juga ini peribasa orang tuha dulu seperti sebujur jasad badan atau tubuh jika salah satu anggota bagian badan sakit maka seluruh jasat akan merasa sakit juga terasa sakit saling bertangung jawab rasa sakit tersebut walapun kita berbeda daerah maupun kabupaten kita tetap satu juga tapi di sebabkan kalimat lailahaillah muhammaddurasullah yang rengang di rapatkan yang sakit di obatkan ,itulah kalau kita pergi kemekah walaupun di mekah itu negeri orang punyanya ada datang dari orang berbeda-beda tidak terasa kita tetap saling membantu tidak dikira beriman tidak sempurna keimanan kamu sehinggalah menyayangi saudara seagama kamu seperti kamu menyayangi diri kamu sendiri kalau seseorang tidak sayangi orang lain maka imannya belum sempurna kasih sesama kita
Coba kita lihat sekarang kaum sesama islam kita dijakdikan
tuhun kedudukan orang berbeda –beda memang sudah di tentukan oleh allah swt ada
di jakan tuhan kedudukan nya begini ada ekonomi nya lebih bagus lagi reskizi di
jadikan tuhan berbeda contoh kita di aceh orang islam disini melarat orang
islam ini senang
Berdasarkan penggalian sejarah, para ilmuwan percaya bahwa orang-orang
sumerialah yang pertama kali mengembangkan sistem tulisan. Penggalian di bekas
situs (lokasi) sumeria menunjukkan kumpulan tulisan, lazimnya berkutat tentang
kegiatan ekonomi. Mula-mula tulisan sumeria berupa gambar yang menunjukkan
benda, di sebut pictogram. Kemudian di kembangkan sehingga menjadi fonetik.
Dengan berkembangnya tulisan, maka pujangga sumeria mampu menuangkan pikiran
dan gagasan mereka dalam bentuk tulisan. Tulisan tersebut dilakukan pada
lempengan tanah liat yang masih empuk karena di beri air. Kemudian di keringkan
di sinar matahari sanpai keras. Hasil tulisan ini di simpan di perpustakaan
kuil, pemerintah dan pribadi. Dengan demikian sekitar tahun 2700 S.M
orang-orang sumeria telah mengenal perpustakaan tempat menyimpan karya tulisan
mereka (sudah tentu yang di simpan ialah lempengan tanah liat, bukan buku).
Gagasan tulisan itu di tiru oleh tetangga sumeria ialah kerajaan
Babylonia. Berkat kegigihan mereka, maka bahasa Babylonia yang di tulis dalam
tulisan cuneiform menjadi bahasa diplomatik di kawasan Timur Tengah.
”Cuneiform“ yaitu sistem tulisan yang di gunakan oleh berbagai peradaban di
Timur Tengah.
1. Perpustakaan
Mesir
Perpustakaan yang ada semasa Mesir
purba ialah perpustakaan kuil serta perpustakaan raja, misalnya perpustakaan
Khufu, raja dari Dinasti Keempat dan perpustakaan Khafre, pembangun piramid
yang kedua. Koleksi perpustakaan Mesir dihitung dalam bentuk gulungan papirus,
bukannya eksemplar seperti yang kita lakukan saat ini. Gulungan papirus yang
ditemukan berisi pengetahuan tentang agama, filsafat, sejarah dan ilmu
pengetahuan.
2. Perpustakaan
Yunani
Pada abad keenam S.M. perpustakaan telah ada di Yunani, misalnya
perpustakaan Athenaeus (Athena) dan Polycrates (di pulau Samos) serta
perpustakaan Euripides. Peradaban Yunani purba mencapai puncaknya pada abad
kelima Sebelum Masehi di bawah pemerintahan Pericles. Pada waktu itu
perdagangan buku, kemudian tumbuhlah kebiasaan membaca sebagai kegiatan mengisi
waktu kosong. Pada waktu itu hiduplah Aristoteles (384-322 S.M.), dianggap
sebagai orang yang pertama kali mengumpulkan, melestarikan dan menggunakan buku
dari masa lampau.
Di Asia kecil (kini wilayah Turki)
berkembanglah kerajaan Pergamum. Pada abad kedua Sebelum Masehi, Eumenes II
mendirikan sebuah perpustakaan serta giat mencari manuskrip Yunani. Bila tidak
ditemukan manuskrip, maka dibuatkan salinannya. Untuk keperluan penyalinan
naskah Yunani ini kerajaan Pergamum memerlukan sejumlah besar papirus yang
diimpor dari Mesir. Namun raja Mesir mengkhawatirkan bahwa Pergamum akan
menyaingi koleksi perpustakaan Iskandaria sehingga semasa Ptolemaeus VII
dikeluarkan larangan ekspor papirus ke Pergamum. Akibat larangan itu Pergamum
berusaha menemukan pengganti bahan tukis. Temuan mereka disebut parchmen, bahan tulis terbuat dari kulit
binatang khususnya domba atau anak sapi muda. Berkat penemuan parchmen, koleksi
perpustakaan Pergamum mencapai 200,000 gulungan.
Kelak koleksi perpustakaan Pergamum diserahkan oleh Anthonius kepada Ratu
Cleopatra, seterusnya menambahkannya pada serapeum di Iskandaria sehingga
perpustakaan Iskandaria merupakan perpustakaan terbesar di dunia pada zaman gan
itu.
b. Awal Abad
Menengah
Berdirinya perpustakaan pertapaan sekitar tahun 529 yang di dirikan oleh
St. Benedictus. Selain mendirikan pertapaan, juga membina pemukiman keagamaan
di Subiaco di Italia serta pertapaan yang besar di Monte Cassino. Pertapaan ini
kelak dihancurkan Sekutu karena digunakan oleh pasukan Jerman untuk menembaki
Sekutu. St. Benedictus juga mengeluarkan aturan keagamaan dan moral dan
ketentuan khusus tentang perilaku dan kebaktian. Walaupun bacaan pada masa
kebaktian menyiratkan perlunya keberadaan sebuah perpustakaan, satu-satunya
kegiatan mental yang dianjurkan pertapaan adalah kegiatan yang langsung
berkaitan dengan perkembangan rohaniah. Pada abad keenam, pertapaan menjadi
pusat pengajaran dan pelestarian semua manuskrip, baik menyangkut keagamaan
maupun yang awam. Inilah awal perpustakaan pertapaan. Titik awal ini dimulai
oleh Cassiodorus.
Cassiodorus bercita-cita mendirikan pusat kajian dan pengajaran sastra
Kristen. Cita-citanya tak terkabul. Setelah pensiun, ia mendirikan masyarakat
pertapaan Vivarium (sekitar tahun 540 atau 553).
c. Abad Menengah
tahun 850 – 1200
Pada abad kedelapan dan sembilan
Bagdad merupakan pusat kajian karya Yunani. Bagdad berkembang menjadi kota
besar, di sana berkumpul dokter, ilmuwan, untuk mengkaji dan menerjemahkan
karya Yunani dalam bidang kedokteran, ilmu pengetahuan dan filsafat ke dalam
bahasa Arab. Puncak kegiatan terjemahan terjadi semasa pemerintahan Abbasid
Al-Mamum yang mendirikan graha kebijaksanaan pada tahun 830. Bidang yang khusus
diperdalam ialah kedokteran, matematika dan ilmu alam, karya-karya Plato,
Aristoteles, Hipocrates dan Galen; kesemuanya diterjemahkan ke dalam bahasa
Arab.
d. Abad Menengah
Akhir
Petrarch (sekitar 1304-13740 mengakui nilai-nilai intelektual dan
kultural literatur latin dan yunani kuno. Ia menekankan kajian yang lebih
bersifat manusiawi pada penulis-penulis Yunani dan Latin kuno daripada
menekankan aspek teologis seperti halnya yang dilakukan oleh ilmuwan abad
menengah. Petrarch menelusuri perpustakaan pada pertapaan mencari manuskrip.
Usahanya berhasil menemukan karya latin yang dianggap telah musnah.
Kira-kira separo dari buku yang dicetak pada abad 15 merupakan buku
keagamaan seperti Alkitab. Karya pujangga gereja, panduan untuk pertapaan dan
traktat keagamaan. Publikasi lain ialah ensiklopedia, panplet, kelender,
epistola, buku tantang Matematika dan astronomi. Buku yang dicetak sebelum
tahun 1501 disebut Incunabula.
Salah satu perpustakaan pribadi yang menonjol pada abad ke-15 adalah
perpustakaan Duke Arbino, berisi salinan semua pengarang Yunani dan latin yang
berhasil ditemukan serta semuanya ditulis tangan. Berkat penemuan mesin cetak
dengan menggunakan jenis huruf yang dapat ditukar-tukar, maka buku yang
dihasilkan semakin banyak dan lebih cepat.
e. Dari abad ke
17 hingga abad 20
Semangat ilmiah pada abad ke-17 juga mendorong penulisan tentang sejarah,
perencanaan, organisasi dan administrasi perpustakaan, serta klasifikasi
dan susunan bahan perpustakaan. Pada
tahun 1602 Justus Lipsius menerbitkan buku De
Bibliothesis Syntagma, merupakan dasar sejarah modern perpustakaan.
Pada abad ke-18 dan 19 berbagai
perpustakaan nasional didirikan di benua Eropa. Misalnya La Biblioteca Nazionale Centrale di Florence (Italia), Kungliga
Biblioteket di Stockhlom, Koninklijke
Bibloiteek di Den Haag (Belanda). Disamping itu juga berbagai perpustakaan
pribadi didirikan pada abad-abad tersebut. Perkembangan tersebut menonjol di
Inggris, salah satu sisanya yang masih utuh hingga sekarang adalah perpustakaan
pribadi Samuel Peppys dengan koleksi 3000 buku, sejarahwan terkenal Edward
Gibbon berisi sekitar 7000 buku. Milik pribadi Sir Hans Sloane berjumlah 40.000
serta 3576 manuskrip.
Sekitar abad 19, kebiasaan membaca sudah menyebar hingga kelapisan
masyarakat bawah. Membaca bertujuan memperoleh instruksi, informasi,
kepentingan politik, hiburan dan rohani. Pada tahun 1850 parlemen Inggris
mengeluarkan Public Library Art yang
memberi izin kepada Dewan Perwakilan Rakyat setempat mendirikan perpustakaan
dan membantunya melalui pajak. Salah satu perpustakaan yang dibuka pertama kali
di Inggris adalah perpustakaan umum Manchester. Dari pengalaman perpustakaan
umum Manchester, berkembanglah prinsip jasa perpustakaan umum yang tetap
berlaku hingga sekarang prinsip tersebut adalah:
a. jasa
perpustakaan umum harus diberikan secara Cuma-Cuma bagi setiap warga yang
memerlukannya.
b. Jasa
perpustakaan umum merupakan tanggung jawab lokal dan biayanya ditanggung
bersama oleh pembayar pajak, dengan tidak memandang apakah pembayar pajak
tersebut menggunakan perpustakaan atau tidak.
c. Koleksinya
mencakup semuajenis buku dalam semua aspek.
Prinsip tersebut kelak juga digunakan oleh UNESCO yang mengeluarkan
manifesto perpustakaan umum pada tahun 1972. Akhir abad 19, jasa perpustakaan
umum meluas ke seluruh Inggris, negara Skundinavia dan Eropa. Pada akhir abad
tersebut berkembanglah perpustakaan universitas dan nasionla yang besar di
seluruh Eropa.
2. Sejarah Perpustakaan Indonesia
- Zaman Kerajaan Lokal
Pada zaman kerajaan lokal, di seluruh Indonesia muncul
berbagai kerajaan, ada yang besar ada yang kecil. Kerajaan tersebut umumnya
tidak memiliki perpustakaan, namun mereka memiliki kumpulan naskah kuno atau
manuskrip.
Sebagai pekerja di dunia pendidikan
dan pernah menjadi seorang mahasiswa,
tanggung jawab seorang berpendidikan itu besar. Tidak ada bedanya
juga seperti halnya pustakawan , bukan hanya
membagi
informasi dan menyediakan informasi itu sendiri tapi lebih pada bagaimana kita mendidik
anak manusia untuk menjadi pribadi yang baik, yang berguna
untuk kehidupan dia
sendiri dimasa yang semakin penuh persaingan.
Selama saya
menuntut ilmu di kampus
banyak sekali dosen
yang saya sukai, bukan hanya karena dosen itu
asyik, cantik atau ganteng tapi karena dosen itu mampu
mengarahkan mahasiswa
dalam memberi materi
pelajaran. Dan memang benar kalau memberi materi kepada mahasiswa dapat
membangun sebuah harapan tentang pandangan hidup seorang pustakawan akan
menjadi di masa yang akan datang juga jelas dengan pengaruhnya di dunia
pendidikan dan tidak membuat mahasiswa
jauh dari stress akibat
pengangguran.
Namun semua
profesi memiliki hambatan
rintangan masing – masing sama juga dengan profesi pustakawan yang selalu kita jalani bersama antara
anda, saya dan mereka. Sehingga telah
membentuk diri kita menjadi seperti sekarang ini. Profesi pustakawan dalam keseharian saya telah mengajarkan arti kerja keras untuk
mendapatkan tujuan, mengajarkan arti kesabaran saat harapan tak sesuai dengan
kenyataan, mengajarkan arti kasih sayang untuk memberikan pelayanan yang terbaik, dan mengajarkan arti kepuasan disaat mereka memperoleh ilmu atau hal yang ingin mereka cari. Dalam arti agama bahwa kita hanyalah seorang makhluk yang kecil dan tidak bisa
berbuat apa- apa, kecuali atas izin dan pertolongan dariNya.
Untuk memajukan profesi pustakawan menurut pustakawan
ialah peranan karakter atau tingkah laku kerja seorang pustakawan harus lebih
aktif dalam bekerja sama dengan profesi lain sehingga sumbangan tenaga maupun pemikiran
dari pustakwan mampu neningkatkan derajat social profesi pustakawan di suatu
instansi daerah pemerintahan. Lebi lagi pustakawan mampu menyerap berbagai
sumber disiplin ilmu bukan hanya ilmu perpustakaan saja.
SISTEM pendidikan di Indonesia memang UNIK dan
ANEH. Semua permasalahan pendidikan, termasuk KUALITAS yang rendah, selalu
dibebankan kepada siswa/mahasiswa. Perbaikan BUKAN meningkatkan kualitas sistem
pendidikan melalui menerapkan Total Quality Management in Education (TQME)
tetapi menambah beban belajar kepada siswa/mahasiswa.
Mengikuti sistem pendidikan di negara-negara maju, peran
guru/dosen yang HARUS menutupi gap (kesenjangan) antar-siswa/mahasiswa dalam
kelas, sehingga TIDAK ADA istilah siswa/mahasiswa tahan kelas atau TIDAK LULUS.
Sebaliknya di Indonesia para siswa/mahasiswa yang ditambah beban belajarnya,
BUKAN guru/dosen yang "dimotivasi" untuk belajar bagaimana
meningkatkan kualitas proses pembelajaran sehingga lulusan dari sistem
pendidikan dapat berkompetisi di pasar tenaga kerja global.
Contoh nyata dalam Peraturan Mendikbud RI No. 049 Tahun 2014
tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Agar meningkatkan
"kualitas pendidikan tinggi", maka jumlah SKS untuk mahasiswa
pascasarjana (S2) ditambah dari 36 SKS menjadi 72 SKS, yang berarti lama studi
yang normal selama empat semester ditambah menjadi sekitar delapan semester
(empat tahun). Pada saat yang sama, pendidikan pascasarjana (S2) dalam
bidang bisnis (seperti MBA/MM) di USA sedang dipertimbangkan untuk dikurangi
dari lama belajar selama dua tahun menjadi satu tahun, karena negara-negara di
Eropa sekarang telah menyelenggarakan pendidikan MBA/MM dalam waktu 10-12 bulan
saja.
Sekolah-sekolah bisnis di Eropa, meskipun memberlakukan jalur
cepat untuk memperoleh MBA/MM hanya dalam maksimum 12 bulan (selama empat
periode @tri-wulan), tetapi sekolah-sekolah itu bereputasi kelas dunia
melalui terakreditasi AACSB (The Association to Advance Collegiate Schools of
Business). Sedangkan di Indonesia baru hanya ada satu sekolah yang terakreditasi
AACSB, yaitu: Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM (itupun akreditasi AACSB baru
diperoleh Mei 2014, dalam proses yang panjang dan berliku sekitar delapan
tahun).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar